Sudah 2 kali gagal dalam hubungan dengan alasan yg sama. Tidakkah belajar dari kegagalan pertama?
Kecewa? Sudah pasti. Kenapa? Begitu meyakinkannya janji-janji diawal. Berulang kali kupastikan agar tak terjadi lagi seperti kegagalan pertama itu. Tapi lebih tepatnya "BODOH". Percaya begitu saja.Flashback dengan kegagalan pertama. Diawal semua biasa aja, let it flow. Tidak ada yg melarang. Sampe seyakin itu. Hingga akhirnya harus berakhir di tahun ke-3. Tiba-tiba aku dijauhi tanpa aku tau alasan. Tapi akhirnya aku tau ternyata alasannya kelurga tidak setuju dan melarang. Oke, cukup sakit dan berusaha bangkit. Sampai akhirnya biasa saja.
Tiba-tiba muncullah seseorang yg menjadi kegagalan ke-2 ku ini.
Kucoba buka hati walaupun dengan banyak kekhawatiran. Sampai akhirnya dia mengajak untuk menjalin hubungan. Aku ingin, tapi aku takut. Mencoba mengambil beberapa waktu lagi untuk meyakinkan diri sendiri. Akhirnya dengan segala kegelisahan, kekhawatiran kucoba berani ambil resiko namun tetap berjaga-jaga. Kutanya lagi, kupastikan lagi, dia meyakinkan dan sangat meyakinkan sampai aku semakin berani. Ayo, kita jalani.
Dan benar, lagi-lagi tidak terjadi apa-apa. Tidak ada larangan-larangan. Dikenalkan dengan keluarganya dan di perlakukan dengan sangat baik, ditambah lagi dikenalkan dengan saudara-saudaranya yag lain. Diajak pergi bersama. Aku semakin percaya dan berani berkomitmen. Berani membangun mimpi-mimpi, rencana-rencana yang sudah sedemikian rupa dirancang dalam pikiranku. Senang sekali rasanya. Sambil tetap bersabar menunggu segala impian itu terjadi.
Tapi tetap saja, mimpi hanyalah mimpi. Tepat 3 tahun berhubungan, kegagalan itu terjadi lagi. De javu.
Larangan-larangan tiba-tiba datang lagi. Aku benci. Aku benci dengan keadaan ini. Tidak tau harus menyalahkan siapa. Kenapa bisa semengecewakan ini? Dengan segala keyakinan yg udah terjadi, kupikir keraguanku benar-benar dipatahkan. Nyatanya, hatiku yg patah. Sakit? Sangat. Semua janji-janji dan komitmen diawal tidak berlaku? Tidak! Namun tak bisa kusalahkan dia. Tetap diriku sendiri yg salah.
Aku semakin terpuruk. Hancur. Apa yg salah dengan diriku ini. Aku yg rapuh ini lagi-lagi harus tampil tegar, kuat seolah tidak terjadi apa-apa. Pikiranku yg ntah-ntah sekarang ini harus tetap bisa fokus menjalani hari-hari berat yg harus dijalani. Hati dan pikiran setiap hari menolak kenyataan. Aku stress. Tidak tau harus menumpahkan kemana segala pergumulan ini.
Setiap kali berusaha menghibur diri, bukan kesenangan yg kudapat. Hati ini rasanya semakin menangis.
Seiring berjalan waktu hingga 2 tahun berlalu, aku yg bodoh ini masih saja megharapkan keajaiban itu walaupun dia sudah bilang tidak mungkin untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi ku membiarkan aku sakit lagi dan lagi. Aku masih mengharap tanpa dia tau.
Padahal berulang kali dia suruh aku untuk cari yg lain saja.
"Laki-laki seperti apa sebenarnya yg harus kupercaya?" Itu yg selalu kupikirkan.
Tak ada niat lagi rasanya untuk buka hati ini. Biarlah dia jadi yg terakhir. Ingin kututup sampai sini saja.


0 komentar:
Posting Komentar