Ads 468x60px

Sabtu, 28 Mei 2022

Sepihak

Bukan salah pilih langkah.

Ada 2 kesempatan saat itu. Tapi tetap aku mendukung yg menurutku terbaik buat dia, keluarganya dan masa depannya. Yg aku juga tau resiko perpisahan nya jauh lebih besar, namun dengan harapan tidak terjadi. Nyatanya segala ketakutan-ketakutan itu sudah kurasakan sekarang. Iya, dia menjauh bahkan menghilang.

Kalau saja bisa berandai-andai, andai saja waktu itu dia tetap pada kesempatan pertama, pasti tidak akan sejauh ini, dalam hal jarak maupun yg lainnya. Kami juga sudah rancang hal yg akan dilakukan saat kesempatan pertama nantinya dipilih. Bahagia. Bahagia membayangkannya.
Sampai saat ada kesempatan kedua datang. Aku mengajak untuk mencoba, mencoba sama-sama akan pergi dengan pilihan kalau sama-sama berhasil, jarak tidak akan terlalu jauh, tapi kalau salah satunya gagal, akan lebih jauh dari kesempatan pertama. Dia 50:50 saat itu. Aku tau juga berat untuk meninggalkan kesempatan pertama, tapi aku terus meyakinkan untuk mencoba dulu karna kemungkinan berhasil dan gagalnya juga sama. Dia tetap ragu-ragu, dan ya aku terus meyakinkan sampai akhirnya kami mencoba. Hal yg sama kami lakukan, kembali merancang hal-hal baru yg nantinya akan dilakukan kalau kami sudah berhasil. Bahagia, bahkan lebih bahagia. Seperti ada titik terang yg selama ini tertutup. Kami sama-sama berjuang, mengupayakan semuanya.
Lalu sampailah ditahap dia akan berhasil. Iya, masih 'akan'. Tapi aku sudah gagal. Resiko lebih besar yg akan terjadi, jarak akan lebih jauh. Dan yg kuanggap titik terang seperti meredup. Namun aku tidak boleh patah semangat, karna dia akan berhasil.
Tibalah hari dimana dia harus memilih, kesempatan pertama atau kedua. Sedikit keraguan masih ada, tapi aku tetap meyakinkan. Dan akhirnya dia memilih meninggalkan kesempatan pertama, dan memilih kesempatan kedua.
Sambil terus memperjuangkan yg sudah menjadi pilihan, sampai akhirnya pilihannya tidak sia-sia. Berhasil. Dia bahagia, keluarganya bahagia, aku lebih bahagia. Disaat yg sama kekhawatiran ku muncul perlahan, resiko perpisahan itu lebih besar. Namun tetap saja, giliran dia meyakinkanku sekarang. Kami rancang lagi mimpi-mimpi itu sedemikian rupa, sebahagia yg kami inginkan. Kami beli sesuatu yg kuanggap bisa menenangkan hatiku, iya 'kuanggap'. Aku mulai tenang walau kadang masih terusik kekhawatiran.
Waktu berlalu, tiba-tiba saat itu tiba. Dia pergi. Iya pergi. Sedikit kecewa dia meninggalkan barang yg kami beli. Namun saat itu komunikasi terjaga, intens. Aku tenang. Tapi yg terjadi, hanya berlangsung 3 hari. Setelahnya sama sekali aku tidak tau kabarnya. Pedih. Semuanya buyar. Kenapa tidak sesuai perjanjian diawal. Semua berantakan. Berantakan. Ternyata memang dari awal hanya aku yg berfikir sendirian tanpa aku sadari. Aku sendiri yg bangun ekspektasi setinggi itu. Aku terlalu sepihak untuk memikirkan kebahagiaan itu. Sampai aku benar-benar ditinggalkan.
Tapi aku yakin, dukunganku tidak salah langkah.

0 komentar:

Posting Komentar